Merayakan Kemerdekaan dalam Keberagaman
Karya: Aini Devina

Bhineka Tunggal Ika. Tidak asing bukan dengan kalimat itu?. Ya, itu merupakan semboyan bangsa Indonesia yang mengartikan bahwa Indonesia memiliki banyak keragaman tetapi tetap satu. Kalimat ini bukan hanya semboyan tetapi juga mengingatkan kita untuk tetap bersatu dalam keberagaman yang sudah lama hidup berdampingan dengan masyarakat Indonesia bahkan jauh sebelum adanya kemerdekaan.
Keberagaman sebelum kemerdekaan dapat dilihat dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928 dimana para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dan bersatu untuk menyatakan bahwa satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Keberagaman di era sekarang dapat dilihat salah satunya pada setiap tanggal 17 Agustus dimana masyarakat memakai baju adat dari berbagai daerah, kegiatan, atau lomba-lomba yang diadakan. Warna-warni baju adat dilihat setiap tahunnya di Istana Negara dimana para peserta upacara mengenakan berbagai baju adat dari Sabang sampai Merauke, selain itu di dalam lingkungan sekolah juga biasanya murid-murid memakai baju adat dan mengadakan karnaval dengan memakai baju adat.
Di daerah-daerah juga biasanya diadakan kegiatan yang diadakan setiap tahunnya untuk merayakan kemerdekaan. Seperti di daerah Malang yang mengadakan acara Barikan atau syukuran yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Acara ini dimulai dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan dilanjut dengan makan bersama. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur dan menjadi simbol penghormatan terhadap para pejuang.
Lain halnya dengan di daerah Batam yang mengadakan lomba Sampan Selayar yaitu lomba perahu kecil dengan memanfaatkan angin sebagai penggerak utamanya. Perlombaan biasanya dibagi dalam regu-regu yang berisi 9, 7, 5, 3, atau 2 orang setiap regu. Kegiatan ini menjadi ajang masyarakat untuk menunjukkan kekompakan, keterampilan, dan sportivitas.
Dengan keberagaman ini terdapat tantangan yang berasal dari internal maupun eksternal. Tantangan internal dapat berupa paham etnosentrisme dan radikalisme, yaitu sebuah paham yang menonjolkan kelompok atau suku tertentu lebih baik dibanding yang lain. Paham ini akan mengakibatkan rusaknya nilai persatuan dan kesatuan apalagi di zaman teknologi digital seperti sekarang paham ini dapat menyebar luas dengan cepat. Tantangan eksternal dapat berupa masuknya budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan budaya lokal. Sebagai warga negara sudah seharusnya untuk menyaring budaya yang masuk dan perlu untuk menjaga budaya lokal agar tidak tergantikan dengan budaya asing.