Perjalanan Inspiratif Verin, Dari Kehilangan hingga Jadi Juara LKBB

Di balik ramainya kota Cilegon, ada seorang anak yang tumbuh dengan semangat besar di tengah kehilangan. Namanya Verin Dwi Anggraini salah satu penerima manfaat Program Yatim Ayasofya Center Indonesia (ACI). Verin harus menerima kenyataan ketika sang ayah meninggal dunia saat baru berusia 9 tahun. Sejak saat itu, rumah sederhana yang ia tinggali bersama ibu dan kakaknya menjadi tempat Verin belajar tentang arti ketegaran.

 

Saat usianya menginjak sembilan tahun, ia harus menerima kenyataan  kehilangan sang ayah untuk selamanya. Kepergian ayah menjadi momen yang mengubah banyak hal dalam hidupnya.

 

Meski kini hari-harinya penuh aktivitas dan tawa bersama teman-teman, ada satu hal yang masih paling Verin rindukan yaitu  bermain bersama ayah. Kenangan sederhana itu masih tersimpan hangat di hatinya. Kini, sang ibu menjadi sosok paling berharga sekaligus penyemangat terbesar dalam hidupnya.

 

“Kalau ingat ayah, aku paling kangen main bareng,” ujar Verin lirih.

 

Meski kehilangan sosok ayah yang begitu ia cintai, Verin tidak membiarkan kesedihan mematahkan langkahnya. Anak  kecil ini justru tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, dan penuh semangat. Di sekolah maupun di lingkungan bermainnya, Verin dikenal senang berkumpul bersama teman-temannya. Salah satu hal yang paling ia sukai adalah kegiatan LKBB (Latihan Keterampilan Baris-Berbaris).

Tumbuh Menjadi Anak yang Aktif dan Berprestasi

Siapa sangka, dari hobinya itu Verin berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Ia pernah meraih Juara LKBB Pasukan Ter-Hits dan Juara Harapan tingkat se-Pulau Jawa dalam ajang Open MAN 1 Kota Cilegon. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa anak yatim pun mampu berdiri percaya diri dan membawa kebanggaan.

 

Perjalanan pendidikan Verin mulai dari TK R.A Nurul A’la, lalu melanjutkan ke SDN Masigit 2 dan Madrasah MDTA Al Khairiyah Sumampir. Di tengah kondisi keluarga yang sederhana, Verin tetap memiliki semangat belajar yang tinggi. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk mewujudkan mimpi dan membalas perjuangan sang ibu.

 

Bagi Verin, sekolah bukan sekadar kewajiban. Ia percaya pendidikan bisa menjadi jalan untuk mengubah masa depan keluarganya. Di tengah segala keterbatasan, Verin tetap menyimpan mimpi-mimpi besar di dalam hatinya.

 

Awal mula Verin menjadi penerima manfaat Program Yatim Ayasofya Center Indonesia  (ACI) berawal dari informasi yang diberikan salah satu pengurus program yatim di daerahnya. Kehadiran program tersebut membawa dukungan baru bagi Verin dan keluarganya.

 

Tidak hanya bantuan, Verin juga merasakan perhatian dan kepedulian yang membuatnya merasa tidak sendiri dalam menjalani hidup. Dukungan itu menjadi salah satu alasan mengapa dirinya tetap optimis mengejar cita-cita.

 

di sisi lain, Sang ibu berharap putrinya kelak tumbuh menjadi anak yang pintar, salehah, dan sukses dunia akhirat. Harapan sederhana itu terus dipanjatkan dalam setiap doa.

 

“Saya cuma ingin Verin jadi anak baik dan punya masa depan yang lebih baik,” tutur ibunya.

 

Di usia yang masih sangat muda, Verin mungkin belum sepenuhnya memahami arti kehilangan. Namun dari langkah-langkah kecil yang ia jalani setiap hari, terlihat jelas bahwa ia sedang belajar menjadi pribadi yang kuat.

Langkah Kecil Menuju Masa Depan Besar

Pada akhirnya, Kisah Verin mengajarkan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya. Di balik mata kecilnya, tersimpan mimpi besar yang terus tumbuh. Dan dengan dukungan serta kasih sayang dari banyak orang, langkah kecil Verin hari ini perlahan sedang berjalan menuju masa depan yang penuh harapan.

 

Yuk, bersama Ayasofya Center Indonesia  (ACI) hadirkan lebih banyak senyum dan harapan untuk anak-anak yatim Indonesia melalui ayasofya.or.id/program/