Dua Tahun Gaza Mundur 77 Tahun: Sementara Pemimpin Dunia Terus Menerus Berdebat, Anak-Anak Mati Karena Dehidrasi dan Tikus

Dua tahun eskalasi militer di Gaza telah mengembalikan perkembangan manusia setara 77 tahun ke belakang. Penilaian cepat kerusakan dan kebutuhan yang dirilis Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 20 April 2026 mencatat total kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi mencapai 71,4 miliar dolar AS dalam dekade mendatang, dengan kerusakan infrastruktur fisik di angka 35,2 miliar dolar dan kerugian ekonomi serta sosial 22,7 miliar dolar. Lebih dari 370.000 unit perumahan dan hampir seluruh sekolah hancur atau rusak. Lebih dari separuh rumah sakit tidak berfungsi. Ekonomi Gaza menyusut 84 persen.

Data Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan antara 15 dan 21 April 2026, 18 warga Palestina tewas, tiga meninggal karena luka, satu jenazah dievakuasi, dan 79 orang terluka. Total korban sejak pengumuman gencatan senjata pada 10 Oktober 2025 mencapai 786 tewas dan 2.217 luka-luka. Angka ini belum termasuk 196 korban tewas yang ditambahkan secara retrospektif setelah identifikasi detail disetujui Kementerian Kesehatan.

Kondisi hidup di seluruh Jalur Gaza tetap mengerikan. Sebagian besar penduduk masih mengungsi, terpapar risiko kesehatan masyarakat yang meningkat, dan terus menjadi sasaran tembakan, mortir, dan serangan udara. Pada 17 April 2026, dua kontraktor sipil yang bekerja untuk UNICEF tewas oleh tembakan Israel saat mengantarkan air minum ke komunitas pengungsi di stasiun pengisian air Mansoura, Gaza utara. Dua kontraktor lainnya terluka. UNICEF menghentikan pengumpulan air di lokasi tersebut hingga kondisi keamanan pulih. Lokasi itu merupakan titik pengisian operasional utama dari pipa air Mekorot Israel yang melayani Kota Gaza.

Akses air bersih terus menyempit. Pada 25 Maret 2026, serangan udara mengenai jalur pasokan listrik ke Pembangkit Desalinasi Gaza Selatan di Khan Younis yang memproduksi sekitar 16.000 meter kubik air minum per hari. Meski jalur diperbaiki pada 31 Maret, kerusakan memaksa pembangkit beroperasi dengan generator cadangan dan mengurangi output menjadi sekitar 2.500 meter kubik per hari, atau 20 persen dari kapasitasnya. Sekitar 500.000 orang di Deir al Balah dan area Mawasi utara Khan Younis kehilangan akses air minum. Kekurangan pelumas untuk generator diesel listrik mengancam penutupan fasilitas produksi air di seluruh wilayah.

Krisis kesehatan semakin dalam. Obat-obatan habis, kebutuhan transfusi terkait dialisis meningkat, dan prosedur kateterisasi jantung hampir terhenti total. Evakuasi medis dari Gaza dihentikan sementara setelah insiden keamanan pada 6 April 2026 yang menewaskan satu kontraktor yang bekerja untuk WHO. Dua staf WHO hadir namun tidak terluka. WHO menangguhkan dukungan evakuasi medis hingga pemberitahuan lebih lanjut. Baru pada 12 April evakuasi medis dilanjutkan dengan 103 pasien dan 190 perawat keluar dari Gaza melalui Penyeberangan Rafah.

Kondisi di tempat pengungsian memicu wabah penyakit. Tikus, kecoa, lalat, dan hama lainnya berkembang biak pesat akibat akumulasi sampah padat di dekat tempat pengungsian. Antara 14 dan 19 April, fumigasi dilakukan di 21 tempat penampungan darurat dan 30 tempat pengungsian di Rafah dan Khan Younis untuk sekitar 35.000 orang. Setengah dari tempat pengungsian di Gaza dilaporkan memiliki kasus penyakit kulit, dan hama terlihat di 80 persen lokasi.

Dampak pada perempuan dan anak perempuan memerlukan perhatian khusus. Laporan UN Women tahun 2025 mencatat perempuan dan anak perempuan di Gaza dan Tepi Barat berada dalam kebutuhan darurat perlindungan dan bantuan kemanusiaan, termasuk akses ke makanan, air bersih, tempat tinggal, perawatan kesehatan, dan pendidikan. Mereka menghadapi risiko kekerasan berbasis gender yang meningkat, terutama perempuan lanjut usia, penyandang disabilitas, atau mereka yang merawat anggota keluarga dengan disabilitas. Risiko ini terkait erat dengan pengungsian berulang, kondisi tinggal yang padat dan tidak aman, kelangkaan sumber daya, serta runtuhnya jaringan perlindungan keluarga dan komunitas. UNFPA memperingatkan mekanisme koping yang merusak, termasuk perkawinan anak, meningkat di Wilayah Palestina yang Diduduki. Di Gaza, praktik tersebut meningkat disertai lonjakan kehamilan remaja.

Pendidikan hancur total. Hampir seluruh sekolah di Gaza rusak atau hancur. Sejak 11 April 2026, tidak ada perlengkapan pendidikan yang masuk ke Gaza. Ruang belajar sementara yang ada padat dan waktu instruksi terbatas, memperburuk kemiskinan pembelajaran. Banyak anak yang terdaftar tidak mampu memperoleh keterampilan dasar termasuk membaca dan pemahaman. Ujian akhir Tawjihi direncanakan secara tatap muka dan elektronik, namun 29 pusat ujian kekurangan perabot dan 64 mengalami kekurangan perabot.

Respons yang seharusnya dari pemimpin dunia dimulai dengan pengakuan bahwa kondisi di Gaza bukan bencana alam melainkan hasil dari kebijakan yang dapat dicegah dan dihentikan. Pertama, pemimpin negara harus menuntut pembukaan semua penyeberangan termasuk Zikim untuk utara Gaza dan Rafah untuk evakuasi medis serta bantuan kemanusiaan tanpa hambatan administratif. Data OCHA menunjukkan antara 14 dan 20 April, sekitar 17.400 palet bantuan PBB dan mitra dibongkar di Kerem Shalom dan Zikim, peningkatan signifikan dari 7.400 palet minggu sebelumnya setelah Zikim dibuka kembali pada 13 April. Namun kapasitas pemindaian di Pelabuhan Ashdod tetap terbatas, hanya 40 hingga 60 kontainer per hari, di bawah target 80 hingga 100.

Kedua, negara-negara donor harus mengalokasikan dana untuk pemulihan yang dipimpin Palestina dan selaras dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, bukan hanya bantuan darurat yang menciptakan ketergantungan. Ketiga, pemimpin dunia harus mendukung mekanisme akuntabilitas yang mengadili pelanggaran hukum humaniter internasional, termasuk pembunuhan pekerja bantuan dan serangan terhadap fasilitas sipil. Keempat, tekanan diplomatik harus diarahkan pada penghentian pembatasan pergerakan di Tepi Barat, di mana OCHA mencatat 925 rintangan pergerakan, angka tertinggi dalam 20 tahun terakhir dan 43 persen di atas rata-rata dua dekade.

Pemimpin dunia memiliki instrumen hukum, dana, dan pengaruh diplomatik untuk mengubah arah krisis ini. Yang mereka lakukan hingga saat ini adalah tidak cukup dan terus-menerus di bawah ambang batas minimum kemanusiaan. Gaza memerlukan tindakan yang menghentikan pembunuhan, membuka akses bantuan, dan menegakkan hukum internasional. Semua hal tersebut dapat dilakukan besok jika ada kehendak politik. Pertanyaannya bukan apakah dunia mampu, melainkan apakah dunia mau.

Ayo kuatkan terus dukunganmu dengan berkontribusi untuk Gaza melalui Ayasofya Center Indonesia. Bantuan bisa disalurkan dengan program-program kami diantaranya:

https://ayasofya.or.id/campaign/hotmealsforgaza

https://ayasofya.or.id/campaign/airuntukgaza

 

 

 

Penulis: Evan Andhika Suci
Editor: Ahmad Nadzif